Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2009

Zhong qiu jie

Hari ini di sekolah, Xu laoshi bercerita tentang zhong qiu jie yang bakal jatuh pada tanggal 3 oktober (atau dalam penanggalan China, perayaan ini jatuh pada tanggal 15 bulan 8). Di Indonesia kita biasa mengenalnya dengan nama perayaan kue bulan.

Asal cerita tentang kue bulan ini juga banyak versinya. Tetapi salah satu yang paling populer di Indonesia berkaitan dengan Chang'e.
Dulu terdapat banyak matahari. Hal ini tentunya membuat rakyat sengsara. Kemudian pada saat itu Houyi, pahlawan dari kerajaan yang katanya mampu untuk memanah matahari-matahari tersebut. Akhirnya dia menyisakan sebuah matahari, dan memperoleh hadiah pil keabadian, yang hanya boleh dimakan apabila dirinya sudah bersih jiwanya. Pil itu ditaruh di rumahnya. Suatu hari, ketika Houyi pergi dari rumah, istrinya (Chang’e) menemukan pil itu, dan secara diam2 dimakannya. Takut Houyi marah ketika mengetahui hal ini, Chang’e lari dan tanpa disadari tubuhnya menjadi ringan sehingga dapat terbang ke langit. Houyi terus mengejarnya, namun dia kalah cepat, istrinya telah mencapai bulan.
(sumber: wikipedia)

Versi perjuangan lawan Manchu
Kue bulan bermula ketika China di bawah penjajahan suku Manchu (Mongol). Pada akhir rezim, pemerintahan dinasti Qing sangatlah buruk. Raja hidup berhura-hura, padahal rakyat menderita. Saat keadaan ekonomi negara kacau, ada beberapa aktivis menyerukan revolusi. Namun, karena pengawasan yang ketat dari pemerintahan, pesan dan surat dari pemberontak tidak mungkin disebarkan. Akhirnya seorang aktivis bernama Zhu Yuanzhang dan Liu Bowen memperkenalkan sejenis makanan yang disebut "kue bulan".
Saat Zhong qiu festival tiba, rakyat membuka kue bulan dan mereka menemukan secarik kertas dalam kue, "habisi orang-orang Manchu tanggal 15 pada bulan ke delapan". Sebagai hasilnya semua rakyat bangkit berevolusi melawan pemerintahan Mongolia dan berhasil. Sejak saat itu kue bulan menjadi salah satu makanan tradisional saat terang bulan.
(sumber:laoshi)

MOONCAKE
Mooncake adalah sajian wajib pada perayaan Festival Musim Gugur setiap tahunnya. Di Indonesia, kue bulan biasanya dikenal dalam dialek Hokkian-nya, gwee pia atau tiong chiu pia.
Menurut Wikipedia, mooncake yang tradisional berbentuk bundar atau segiempat, diameternya sekitar 10 cm dan tebalnya 4-5 cm. Kulitnya tipis berwarna kuning keemasan, dalamnya tebal dan padat, dan sering diisi dengan isian yang manis, dan biasanya di tengahnya ada kuning telur bebek asin, sebagai simbol bulan purnama.

Namun seiring perkembangan zaman, bentuk-bentuk lainnya muncul menambah variasi kue bulan. Sekarang isiannya bisa macam-macam, mulai yang tradisional seperti pasta biji lotus (liang rong), pasta kacang merah (hong dou sha), melon merah (ha mi gua), kacang, almond, kacang hijau, dll.
Trus yang yang non-tradisional (ini yang aneh2), seperti nanas (rasanya seperti nastar..), kopi, coklat, kelapa, leci, keju, strawberry, mangga. Haagen-Dazs juga memproduksi mooncake versi es krim yang harganya kalau diitung2... mencapai 50-an RMB per biji...
Ada lagi snowy mooncake yaitu mooncake dingin yang terbuat dari ketan yang rasanya mirip2 mochi gitu..

Kue ini adalah kue khas Festival Musim Gugur (Mid-Autumn Festival) di Cina, yaitu festival paling besar kedua di Cina sesudah Tahun Baru, Biasanya mooncake dijadikan hadiah tukar menukar antar kerabat.. Harganya pun bervariasi tergantung isi, ukuran, merek, jumlah, dan kemasannya.. Ada yang dijual perkiloan ada pula yang dijual bijian dengan harga yang wow!!
Makanya dekat-dekat Festival, swalayan, tempat perbelanjaan, bahkan kantor pos penuh dengan kotak-kotak Mooncake yang segera laris manis.

Senin, 08 Juni 2009

Hua Mu lan

Salah satu figur yang terkenal karena menyamar sebagai pria adalah Hua Mulan 花木兰. Namanya telah lama disejajarkan dengan kata “pahlawan”, meskipun terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai nama sebenarnya. Menurut Buku Riwayat Ming, nama keluarganya adalah Zhu, sedangkan Buku Riwayat Qing mengatakan Wei. Xu Wei mengemukakan pendapat yang lain, bahwa Mulan bergabung dengan tentara karena ayahnya, dia memberikan nama keluarga Hua. Yang lainnya berdasarkan Nyayian Mulan memberikan nama keluarga Mu.

Tempat asal dan pada jaman apa Mulan hidup juga masih tidak jelas. Dia dikatakan hidup pada saat kerajaan Wan di Hebei, lainnya mempercayai bahwa dia berasal dari propinsi Shangqiu di Henan, dan pendapat lainnya mengatakan dia adalah orang asli dari protektorat Liang di Gansu. Satu hal yang sama mengenai Mulan adalah dia berasal dari daerah yang dikenal sebagai Daratan Tengah (Tiongkok).Cheng Dachang dari dinasti Song mencatat bahwa Mulan hidup pada jaman antara dinasti Sui dan Tang. Song Xiangfeng dari dinasti Qing menyatakan bahwa Mulan hidup pada saat dinasti Sui, sedangkan Yao Ying, yang juga berasal dari dinasti Qing, mempercayai bahwa Mulan hidup pada jaman Enam Dinasti. Tidak ada catatan resmi sejarah dinasti Song mengenai diri Mulan. Cerita-cerita yang beredar di Tiongkok menunjukkan bahwa Mulan hidup pada saat sebelum dinasti Tang.

Semua buku sejarah dan legenda menunjukkan satu kesepakatan mengenai jasa besarnya. Dikatakan bahwa ayah Mulan menerima perintah untuk mengabdi kepada tentara. Dia sudah mengetahui hal itu sebelumnya namun saat itu dia sudah tua dan lemah. Mulan mengetahui hal bahwa tersebut adalah mustahil bagi ayahnya untuk bergabung dengan tentara dan satu-satunya adik lelaki Mulan masih terlalu muda. Maka Mulan memutuskan untuk menyamar sebagai pria dan menggantikan posisi ayahnya. Para tentara melewati banyak pertempuran yang sangat sulit untuk beberapa tahun sebelum mereka diperbolehkan pulang ke rumah.

Mulan dipanggil ke pengadilan oleh Kaisar yang menginginkan menunjuknya sebagai perwira tinggi atas jasa-jasa besarnya. Namun Mulan menolak penunjukan tersebut dan memilih menerima sebuah kuda. Pada kemudian hari, ketika para bekas atasannya berkunjung ke tempat Mulan, mereka baru mengetahui bahwa Mulan adalah seorang wanita.

Cerita Mulan sendiri telah diadopsi menjadi bermacam2 cerita layar lebar termasuk yang diproduksi oleh Disney.

sumber: www.tionghoa.com

Kamis, 04 Juni 2009

zhongguo jie (seni simpul tali)

Zhongguo jie 中国结 atau seni simpul / anyaman dari tali (biasanya berwarna merah) sering kita lihat di rumah2 orang China.
Anyaman ini sudah mulai dikenal sejak mereka menggunakan kulit bulu binatang di tubuh untuk menghindari sengatan hawa dingin ribuan tahun yang lalu. Selain itu pada jaman dulu digunakan pada jaman sebelum ada tulisan sebagai tanda pengenal dan catatan harian.

Kebudayaan Tionghoa membahas perihal: 结绳记事 Jie Shen Ji Shi – Tali ditarik simpul dengan tujuan untuk memberi tanda pada suatu hal dan 大事大结其绳 (da shi da jie qi sheng)、小事小结其绳 (xiao shi xiao jie qi sheng) – Untuk kejadian besar dibuatkan simpul besar dan untuk kejadian kecil dibuatkan simpul kecil.

Pada masa awal peradaban dan kebudayaan Tiongkok, mereka juga memandang magis pada tali, karena kata tali 绳 (sheng) di dalam bahasa mandarin pengucapannya mirip kata Shen – ketuhanan.
Selain itu, aksara tali juga memiliki sebuah makna tersendiri dalam bidang pemujaan bagi orang Tionghoa, yang disebut juga sebagai rakyat sang naga, karena aksara Tali menyerupai seekor naga yang sedang meliuk bergerak.

Simpul-tali menerima sebuah makna metafor di dalam kebudayaan Tionghoa juga berkat linguistik asalnya. Aksara 结 (jie - simpul) asalnya terdiri dari 丝 (si) dan 吉(ji), dimana 丝 (si) bermakna sutera atau tali dan 吉(ji) bermakna: makmur, berstatus sosial tinggi, panjang usia, kebahagiaan, kekayaan, kesehatan dan keamanan.

Aksara 结 (jie) melambangkan kekuatan, harmoni dan keterikatan perasaan kemanusiaan, yang direfleksikan di dalam sebuah deretan kata-kata bahasa mandarin yang mengandung kata 结 (jie), seperti misalnya 结实 (jie shi = kokoh), 结交 (jie jiao = mengikat persahabatan), 结缘 (jie yuan = merajut takdir pertemuan), 结婚 (jie hun = kawin), 团结 (tuan jie = bersatu-padu).

Sehubungan dengan keterkaitan yang mendalam dari simpul-tali Tiongkok ini dengan kebudayaan lokal, teknik simpul tersebut sebagai kesenian rakyat senantiasa dikembangkan dan diwariskan turun temurun.

Pada saat dinasti Tang dan Song, simpul menyimpul tali ini berkembang menjadi suatu karya seni dan mencapai masa jaya pada dinasti Ming dan Qing. Yang menarik simpulan tali ini dibuat dengan metode tertentu yang sangat rumit, sehingga tidak mudah terlepas dan menghasilkan bentuk yang beragam dan unik.

Seni hiasan tali simpul biasa digunakan sebagai gantungan keberuntungan (hoki) dengan jenis yang beragam seperti yang biasa digantung pada dinding rumah / kantor, mobil, gantungan handphone, dan sebagainya.

Selain itu tali simpul ini ada juga yang digunakan sebagai simpul pakaian, seperti anting‑anting, gelang, atau dapat juga dipakai pada pakaian.
Tali simpul dipakai pada pakaian ada 2 alasan, jaman dahulu pakaian orang Tiongkok tidak mempunyai kancing baju, jadi sebagai pengganti kancing baju dibuatkan simpul tali ini, agar pakaian tersebut dapat tertutup dan lepas seperti fungsi kancing baju umumnya. Pada jahitan baju selalu ada lubang kecil untuk menaruh simpul pakaian ini agai supaya jahitan baju dapat diikat.
Ciri pada simpul tali ini adalah setiap simpul terbuat dari satu tali, lalu berbagai simpul digabung dengan hiasan lain dapat menjadi hiasan yang sangat menarik.

Di China tidak peduli kita berada di daerah mana pasti dengan mudah menjumpai hiasan simpul tali ini.


salah satu toko yang menjual zhongguo jie

Sumber:
http://erabaru.or.id/200902071130/simpul-tali-tiongkok.html
http://www.chinainfoonline.com/Living_Essentials/Chinese_Knot.htm

Selasa, 05 Mei 2009

Duanwu Jie

Duanwu Jie (端午节) atau di Indonesia dikenal dengan sebutan festival Peh Cun
Peh Cun adalah dialek hokkian untuk kata pa chuan (扒船) yaitu mendayung perahu.
Bakcang menurut legenda pertama kali muncul pada zaman Dinasti Zhou berkaitan dengan simpati rakyat kepada Qu Yuan
(屈原) yang bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo. Pada saat itu, makanan2 dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai untuk mengalihkan perhatian binatang di dalam sungai supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dimakan oleh naga dalam sungai maka rakyat membungkusnya dengan daun2an yang sekarang dikenal sebagai bakcang. Rakyat yang merasa sedih kemudian berperahu mencari jenazah di sungai tersebut.
Festival peh cun ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan China. Pada perayaan festival ini yang biasa dilakukan adalah makan bakcang dan perlombaan dayung Perahu naga (dragon boat).


Bakcang
Bakcang dalam bahasa mandarin disebut rouzong 肉粽 atau zongzi 粽子 adalah makanan tradisional masyarakat China. Kata 'bakcang' berasal dari dialek Hokkian.
Bakcang secara harfiah berarti cang yang berisi daging, namun sekarang ini, bakcang juga ada yang berisikan sayur-sayuran atau kosongan.
Bakcang dibuat dari beras ketan sebagai lapisan luar; daging, jamur, udang kecil, seledri dan jahe sebagai isi. Ada juga yang menambahkan kuning telur asin. Untuk perasa biasanya ditambahkan sedikit garam, gula, merica, penyedap makanan, kecap dan sedikit minyak nabati. Pembungkus dan tali pengikatnya dengan menggunakan daun bambu panjang yang direbus terlebih dulu (biar higienis). lalu diikat berbentuk prisma segitiga.
Nah bukan China kalau tidak membuat produk awetannya. Sekarang banyak lho yang menjual produk awetannya. Seperti foto di bawah ini:


jenis awetannya..

Lomba Perahu Naga
Rakyat yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya.
Perlombaan ini masih ada sampai sekarang dan diselenggarakan setiap tahunnya baik di China Daratan, HongKong, Taiwan maupun di AS. Bahkan ada perlombaan berskala internasional yang dihadiri oleh peserta-peserta dari manca negara. Perahu naga ini biasanya didayung secara beregu sesuai panjang perahu tersebut. (sumber data: wikipedia)

Selasa, 21 April 2009

Guangzhou-kota 5 kambing

Di kota Guangzhou, patung 5 ekor kambing itu bertengger dengan gagahnya. Patung tersebut ternyata tidak sekadar hiasan yang memperindah nuansa alami kota itu. Ia menyimpan legenda yang diyakini penduduk setempat secara turun temurun.
Penga
badian 5 ekor kambing itu, berawal dari kasus kejahatan yang dialami seorang ayah berusia 60 tahun yang hidup di pegunungan Guangzhou bersama seorang anak yang baru berusia 16 tahun. Kala itu, di suatu pagi nan sejuk dengan udara pegunungannya Si Ayah dan seorang anak kesayangannya kedatangan serombongan tamu.
Mereka menghampiri rumah besar yang dihuni seorang ayah dan seorang anak tersebut. Lazimnya rombongan tamu, mereka pun permisi dengan penuh keramahan. Si penghuni rumah pun tanpa curiga segera bergegas mempersilahkan para tamunya masuk, tak ada kecurigaan sedikit pun di hati sang penghuni rumah itu. Dialog-dialog kecil dan familiar terjadi diantara mereka.
Namun, ketika salah seorang rombongan tamu itu bertanya pada Si Ayah penghuni rumah itu dengan pertanyaan, siapa pemilik lahan sawah yang subur dan sangat luas di sekitar tempat ini. Dengan enteng dan lugunya, Si Ayah menjawab, "Semua itu milik saya tuan."
Mendengar jawaban tersebut, serombongan tamu itu mulai berulah dan mulai menampakkan jati diri mereka sebagai segerombolan penjahat. Beberapa diantara mereka langsung berbicara lantang, "Berikan hasil bumimu yang sudah kau panen kemarin" teriaknya.
"Wuah...., jangan tuan-tuan. Meskipun lahan sawah yang saya punya luas, tetapi sudah beberapa musim ini tidak panen lantaran banyaknya hama. Jadi kalaupun masih ada sisa panen, itu hanya cukup untuk persediaan makan sehari-hari saya dan anak saya tuan,"
begitu jawab si Ayah dengan kalimat terbata-bata lantaran ketakutan.
Namun apa mau dikata, dasar gerombolan penjahat, mereka langsung menyeret dan membawa kabur si Ayah yang berusia 60 tahun tersebut. Melihat seorang ayah diperlakukan kasar oleh segerombolan tamunya itu, Si Anak menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Sampai-sampai tangis anak itu terdengar oleh para Dewa. Hati para dewa itu pun luluh dengan tangis si Anak itu.
Tak lama kemudian 5 Dewa itu datang menghampiri si Anak dengan mengendarai 5 ekor kambing kesemuanya menggigit untaian padi. Para Dewa itu langsung mengelus kepala si Anak. Sembari berkata, "Sudahlah Nak, hentikan tangismu".
Bersama dengan itu, salah satu Dewa memegang tangan kanan si Anak dan membuka telapak tangannya seraya memberika untaian padi yang diambil dari mulut lima ekor kambing yang dikendarai oleh empat Dewa lainnya itu dan berkata lembut, "Inilah benih padi, tolong ya,...Nak, segera taburkan di hamparan lahan sawah ayahmu itu".
Usai berkata demikian, para Dewa itu langsung pergi menghilang--meninggalkan kambing tunggangannya. Benar, pesan Dewa itupun langsung dilakukan di Anak. Dan berselang 2 hari si Anak telah dibuatnya kagum. Benih dari Dewa tak hanya tumbuh subur, tapi malah siap panen.
Melihat panen padinya melimpah, si Anak bertekad mencari gerombolan penjahat yang membawa paksa Ayahnya tercinta untu ditebusnya. Tak lama kemudian, para penjahat itu ditemukannya. Dan ditebuslah sang Ayah sehingga bisa berkumpul bersama serumah lagi.
Desa kecil di Tiongkok Selatan dalam legenda itu, sekarang dikenal dengan nama Guangzhou dan diberi julukan sebagai kota Lima Kambing. Selain itu kota itu juga memiliki sebutan singkat Sui yang berarti kota padi.
Warga masyarakat wilayah tersebut bangga dengan sebutan Kota Lima Kambing
(五羊城-WuYangCheng). Sebab lima kambing itu merupakan peninggalan Lima Dewa usai menjadikannya sebagi tunggangan dalam misi menolong seorang anak yatim dan teraniaya. Lima kambing itu juga, saat ditinggalkan para Dewa berubah menjadi gunung. Karenanya, gunung itupun kemudian, juga diberi nama Gunung Lima Kambing. (www.bernas.co.id)